Friday, 17 July 2026

Strategi dalam Talkshow: Rahasia di Balik Obrolan yang Menghibur dan Bermakna


Halo, teman-teman! 👋

Aku Wahyu Sulaiman, mahasiswa semester 6 Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mpu Tantular. Tulisan ini masih dalam rangkaian mata kuliah Wawancara dan Talkshow bareng Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom.

Pernah nggak sih kamu nonton talkshow dan mikir, "Kok obrolannya asik banget ya? Kok narasumbernya bisa cerita sedalem itu?"Nah, di balik obrolan yang terasa "natural" itu, ternyata ada strategi yang matang. Yuk, kita bongkar! ☕🎤

Apa Itu Talkshow?

Talkshow adalah program siaran (radio/TV/podcast) yang menghadirkan percakapan antara host, narasumber, dan terkadang audiens suatu topik tertentu. Berbeda dengan wawancara satu arah, talkshow lebih dinamis, interaktif, dan menghibur*.

Strategi Utama dalam Talkshow

1. Pra-Produksi: Fondasi yang Kuat

Sebelum kamera menyala, ada kerja keras di balik layar :

  • - Riset mendalam tentang topik dan narasumber
  • - Menyusun rundown yang fleksibel tapi terarah
  • - Menentukan angle — apa yang bikin topik ini menarik untuk dibahas?
  • - Briefing narasumber agar nyaman dan paham alur acara

Talkshow yang baik 70% ditentukan di tahap persiapan.

2. Opening yang Menggigit

30 detik pertama adalah penentu. Host harus :

  • - Menyapa dengan energi positif
  • - Memberi "pancingan" (hook) yang bikin penonton penasaran
  • - Memperkenalkan topik dengan cara yang relate

Contoh opening yang kuat :

"Pernah nggak sih kalian ngerasa kerja keras tapi nggak pernah cukup? Hari ini kita bakal bahas kenapa 'hustle culture' justru bikin kita kelelahan — bareng narasumber spesial kita..."

3. Teknik Host: Mengendalikan Arus Obrolan

Host adalah "nahkoda" talkshow. Strateginya :

  • - Active listening — dengarkan narasumber, bukan cuma nunggu giliran bicara
  • - Follow-up question — gali lebih dalam dari jawaban yang diberikan
  • - Bridging — menghubungkan satu segmen ke segmen lain dengan mulus
  • - Time management — menjaga agar obrolan tetap on-track dan on-time

4. Membangun Chemistry dengan Narasumber

Narasumber yang nyaman = obrolan yang hidup. Caranya :

  • - Bangun rapport sebelum rekaman (ngobrol santai dulu)
  • - Tunjukkan empati dan ketertarikan tulus
  • - Jangan memotong saat narasumber sedang "panas" ceritanya
  • - Beri ruang untuk narasumber berseloroh atau bercerita personal

5. Melibatkan Audiens

Talkshow modern nggak cuma satu arah. Strateginya :

  • - Sediakan sesi Q&A dari audiens (langsung atau via media sosial)
  • - Baca komentar atau pertanyaan yang relevan
  • - Buat polling interaktif atau kuis kecil
  • - Gunakan bahasa yang inklusif — "kita", "kalian", bukan cuma "saya"

6. Handling Situasi Tak Terduga

Ini yang membedakan host amatir dan profesional :

  • - Narasumber diam/buntu → ajukan pertanyaan pemantik atau beri contoh personal
  • - Narasumber terlalu panjang → potong dengan sopan: "Menarik sekali, coba kita ringkas dalam satu kalimat..."
  • - Topik sensitif/meledak → netral, validasi emosi, alihkan dengan halus
  • - Masalah teknis→ tetap tenang, isi jeda dengan obrolan ringan

7. Closing yang Berkesan

Jangan akhiri dengan "Oke, segitu dulu ya." — terlalu lemah. Coba :

  • - Rangkum poin utama dalam 1-2 kalimat
  • - Minta narasumber memberi "pesan penutup" atau quote
  • - Ajak audiens untuk refleksi atau tindakan
  • - Tutup dengan signature phrase yang khas

Strategi Talkshow di Era Digital

Di era podcast dan live streaming, strategi talkshow berkembang :

  • - Multi-platform — siaran langsung di YouTube, TikTok, Spotify sekaligus
  • - Visual storytelling — meski audio-focused, visual tetap penting (ekspresi, gesture)
  • - Clip-able moments — buat momen-momen yang bisa dipotong jadi konten pendek viral
  • - Engagement real-time — baca komentar live, respon langsung

Penutup : 

Talkshow Adalah Seni Mengobrol yang Terstruktur

Talkshow yang hebat terasa seperti obrolan santai di warung kopi — tapi di baliknya, ada strategi, riset, dan keterampilan komunikasi yang terasah. Seperti yang sering ditekankan Ibu Serepina di kelas:

"Talkshow yang baik bukan yang paling ramai, tapi yang paling bermakna — yang bikin penonton pulang dengan satu ide baru atau satu pertanyaan baru di kepala."

Jadi, buat kamu yang mau jadi host talkshow — atau sekadar ingin ngobrol lebih asik di tongkrongan — pelajari strateginya, latih skill-nya, dan yang paling penting: jadilah pendengar yang baik. 😊

Punya talkshow favorit? Atau mau jadi host talkshow someday? Yuk, share di kolom komentar! 👇


— Wahyu Sulaiman

Mahasiswa Semester 6, Prodi Ilmu Komunikasi

Universitas Mpu Tantular

Dari Batam 🎙️✨


Sumber Referensi :

  1. 1. Murray, M. (2020). The Talk Show Handbook: How to Create, Produce, and Host a Successful Talk Show. Focal Press.
  2. 2. Thompson, G. (2019). Broadcasting Talk: Radio and Television Interviewing Techniques. Routledge.
  3. 3. Hawkins, J., & Soderlund, S. (2021). The Art of the Interview: Lessons from a Master. Knopf.
  4. 4. Bignell, J. (2022). Talk Shows and Conversational Media in the Digital Age. Palgrave Macmillan.
  5. 5. Maida, S. T. (2025). Materi Kuliah Wawancara dan Talkshow. Universitas Mpu Tantular. (Catatan perkuliahan pribadi)

#Tag: #Talkshow #IlmuKomunikasi #MpuTantular #Broadcasting #PublicSpeaking #WawancaraDanTalkshow #HostTalkshow

Podcast : Definisi, Tujuan, dan Proses dalam Ilmu Komunikasi

Halo, teman-teman! 👋

Aku Wahyu Sulaiman, mahasiswa semester 6 Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mpu Tantular. Tulisan ini masih dalam rangkaian mata kuliah Wawancara dan Talkshow bareng Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom.

Yuk, kita bahas podcast secara singkat tapi daging! ☕🎧


Apa Itu Podcast?

Podcast adalah konten audio digital yang didistribusikan secara episodik melalui internet, dapat diunduh atau di-streaming, dan didengarkan kapan saja sesuai keinginan pendengar (on-demand).

Dalam Ilmu Komunikasi, podcast dipandang sebagai media audio baru yang menggabungkan elemen jurnalistik, hiburan, dan komunikasi interpersonal dalam satu kemasan digital.

Tujuan Podcast

Podcast dibuat dengan berbagai tujuan, antara lain :

  • Informasi & Edukasi — menyampaikan pengetahuan atau wawasan mendalam kepada pendengar.
  • Hiburan — menyajikan cerita, komedi, atau obrolan ringan yang menghibur.
  • Branding & Personal Marketing — membangun citra diri atau institusi melalui konten audio.
  • Komunitas & Koneksi — membangun kedekatan emosional dengan audiens tertentu.
  • Monetisasi — menghasilkan pendapatan melalui iklan, sponsorship, atau langganan.

Proses Pembuatan Podcast

Secara umum, proses produksi podcast terdiri dari tiga tahap :

1. Pra-Produksi (Perencanaan)

  • Menentukan konsep, niche, dan target audiens
  • Menyusun format (wawancara, monolog, diskusi, storytelling)
  • Menyiapkan naskah atau rundown episode
  • Meriset narasumber (jika format wawancara)

2. Produksi (Rekaman)

  • Menggunakan alat rekam yang memadai (mikrofon, audio interface)
  • Merekam di ruangan yang minim gema dan kebisingan
  • Menjaga kualitas vokal: artikulasi, intonasi, dan pacing
  • Melakukan take ulang jika ada kesalahan

3. Pasca-Produksi (Editing & Distribusi)

  • Mengedit audio (memotong kesalahan, menambahkan musik/intro)
  • Mastering untuk kualitas suara yang konsisten
  • Mengunggah ke hosting platform (Spotify, Anchor, Apple Podcasts)
  • Mempromosikan episode melalui media sosial

Podcast dalam Perspektif Ilmu Komunikasi

Podcast menarik dipelajari karena ia menghidupkan kembali kekuatan suara sebagai medium komunikasi. Dalam era 

visual yang mendominasi, podcast menawarkan :

  • Kedekatan intim antara host dan pendengar (parasocial relationship)
  • Fleksibilitas konsumsi — bisa didengarkan sambil melakukan aktivitas lain
  • Kedalaman konten — durasi panjang memungkinkan pembahasan yang lebih substansial

Penutup

Podcast bukan sekadar tren audio — ia adalah medium komunikasi kontemporer yang memadukan jurnalistik, seni bercerita, dan teknologi digital. Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, memahami podcast berarti memahami bagaimana suara bisa menjadi kekuatan yang menggerakkan gagasan. 🎙️

Punya podcast favorit? Atau mau mulai bikin sendiri? Yuk, share di kolom komentar! 👇


— Wahyu Sulaiman

Mahasiswa Semester 6, Prodi Ilmu Komunikasi

Universitas Mpu Tantular

Dari Batam 🎧


Sumber Referensi :

  • Berry, R. (2016). The Podcasting Bible: How to Create and Launch a Successful Podcast. Bloomsbury Publishing.
  • McClung, J., & Johnson, T. J. (2022). Podcasting and the Future of Audio Media. Journal of Broadcasting & Electronic Media, 66(2), 215–232.
  • Sullivan, J. L. (2018). Podcasting: The New Audio Revolution. Routledge.
  • Lindgren, S. (2020). Audio Storytelling: Crafting Compelling Podcasts. Focal Press.
  • Maida, S. T. (2025). Materi Kuliah Wawancara dan Talkshow. Universitas Mpu Tantular.


Tag: #Podcast #IlmuKomunikasi #MpuTantular #MediaAudio #WawancaraDanTalkshow #KomunikasiDigital

Wawancara: Definisi, Tujuan, dan Proses dalam Ilmu Komunikasi

Halo, teman-teman! 👋

Aku Wahyu Sulaiman, mahasiswa semester 6 Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mpu Tantular. Tulisan ini masih dalam rangka mata kuliah Wawancara dan Talkshow bareng Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom.

Yuk, kita bahas dasar-dasar wawancara secara singkat tapi daging! ☕🎤

Apa Itu Wawancara?

Wawancara (interview) adalah proses komunikasi lisan antara dua pihak atau lebih — yaitu pewawancara (interviewer) dan narasumber (interviewee) — yang dilakukan secara tatap muka atau melalui media, dengan tujuan menggali informasi, pendapat, atau pengalaman dari narasumber.

Dalam Ilmu Komunikasi, wawancara bukan sekadar "tanya-jawab", melainkan proses komunikasi interpersonal yang terstruktur dan bertujuan.

Tujuan Wawancara

Wawancara dilakukan untuk beberapa tujuan Utama :

  • Mengumpulkan Informasi — mendapatkan data, fakta, atau keterangan langsung dari sumber pertama.
  • Memperdalam Pemahaman — menggali makna, motivasi, atau perspektif yang tidak bisa didapat dari dokumen tertulis.

Verifikasi Fakta — mengonfirmasi kebenaran suatu informasi dari pihak yang berwenang.

Membangun Narasi — dalam jurnalistik, wawancara digunakan untuk menyusun cerita yang utuh dan berimbang.

Evaluasi & Seleksi — dalam konteks HR, wawancara digunakan untuk menilai kompetensi calon karyawan.

Proses Wawancara

Wawancara yang baik tidak terjadi secara instan. Ada tiga tahap Utama :

1. Tahap Persiapan (Pre-Interview)

  • Menentukan tujuan wawancara
  • Meriset narasumber dan topik
  • Menyusun daftar pertanyaan (panduan wawancara)
  • Menyiapkan alat rekam/catatan

2. Tahap Pelaksanaan (Interview)

  • Membangun rapport (koneksi awal) dengan narasumber
  • Mengajukan pertanyaan secara sistematis (umum → spesifik)
  • Mendengarkan secara aktif (active listening)
  • Mengajukan pertanyaan lanjutan (follow-up) jika diperlukan

3. Tahap Pasca-Wawancara (Post-Interview)

  • Mentranskrip hasil wawancara
  • Menganalisis dan mengolah data
  • Menyusun laporan atau artikel berdasarkan hasil wawancara
  • Melakukan verifikasi kembali ke narasumber (jika diperlukan)

Jenis-Jenis Wawancara

Dalam praktiknya, wawancara dibagi menjadi beberapa jenis :

  • Wawancara Terstruktur — pertanyaan sudah disiapkan secara rinci.
  • Wawancara Semi-Terstruktur — ada panduan, tapi fleksibel untuk pengembangan.
  • Wawancara Tidak Terstruktur — lebih seperti obrolan mendalam (in-depth interview).
  • Wawancara Kelompok (FGD) — dilakukan dengan beberapa narasumber sekaligus.

Penutup

Wawancara adalah jantung dari banyak profesi komunikasi — jurnalis, peneliti, humas, hingga penyiar podcast. Kemampuan mewawancarai yang baik bukan bawaan lahir, tapi keterampilan yang bisa dilatih melalui pemahaman teori dan praktik yang konsisten.

Seperti yang sering ditekankan di kelas: "Pertanyaan yang baik adalah jembatan menuju kebenaran." 

Gimana, teman-teman? Ada yang mau ditambahkan atau ditanyakan? Yuk, diskusi di kolom komentar! 👇

— Wahyu Sulaiman

Mahasiswa Semester 6, Prodi Ilmu Komunikasi

Universitas Mpu Tantular

dari Batam ✍️🎤


Sumber Referensi:

  • Stewart, C. J., & Cash, W. B. (2019). Interviewing: Principles and Practices (15th ed.). McGraw-Hill Education.
  • Kvale, S., & Brinkmann, S. (2021). InterViews: Learning the Craft of Qualitative Research Interviewing (4th ed.). SAGE Publications.
  • Morris, C. (2015). Interviewing: A Practical Guide for Students and Professionals. Open University Press.
  • Siregar, A. (2018). Teknik-Teknik Jurnalistik: Panduan Praktis Wawancara. Jakarta: Kencana.
  • Maida, S. T. (2025). Materi Kuliah Wawancara dan Talkshow. Universitas Mpu Tantular.


#Tag: #Wawancara #IlmuKomunikasi #MpuTantular #Jurnalistik #KomunikasiInterpersonal #WawancaraDanTalkshow

Podcast : Ketika Suara Jadi Media yang Menggerakkan


Halo, teman-teman! 👋

Aku Wahyu Sulaiman, mahasiswa semester 6 Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mpu Tantular. Tulisan ini masih dalam rangka mata kuliah Wawancara dan Talkshow bareng Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom.

Yuk, kita bahas soal podcast — media audio yang lagi hits banget! ☕🎧


Apa Itu Podcast?

Podcast adalah konten audio digital yang bisa didengarkan kapan saja, di mana saja— kayak radio, tapi on-demand. Isinya bisa wawancara, monolog, diskusi, storytelling, atau bahkan kuliah. Yang jelas: lebih mendalam dan personal.

Kenapa Podcast Populer?

1. Multitasking-friendly — bisa didengerin sambil jalan, masak, atau olahraga.

2. Konten lebih dalam — durasi panjang, pembahasan detail, nggak sepotong-potong.

3. Koneksi personal — suara itu intim, rasanya kayak ngobrol langsung sama host.

Elemen Podcast yang Baik

- Host yang engaging— jelas, ekspresif, bisa bangun koneksi.

- Konten bernas — topik jelas, ada nilai buat pendengar.

- Audio jernih — suara buruk = pendengar langsung skip.

- Struktur jelas — ada pembuka, isi, penutup.

Tips Buat Kamu yang Mau Mulai Podcast

1. Pilih niche spesifik — jangan ngomongin semua hal.

2. Riset narasumber — pertanyaan tajam = jawaban menarik.

3. Latihan bicara — artikulasi, intonasi, pacing itu penting.

4. Konsisten — upload rutin, mingguan atau dua mingguan.

Podcast dan Berpikir Kritis

Podcast berkualitas itu mengajak kita :

- Mendengar perspektif berbeda

- Menganalisis argumen

- Mengevaluasi bukti

- Menyusun pemahaman sendiri

Jadi, podcast bukan cuma hiburan — ia juga media edukasi yang powerful.

Penutup

Di era visual yang mendominasi, podcast mengingatkan kita bahwa mendengarkan itu penting. Ada kedalaman yang hanya bisa ditangkap lewat suara, lewat cerita yang diceritakan dengan sabar.

Podcast itu bukan tren. Ia adalah bentuk komunikasi yang memanusiakan — mengajak kita berhenti sejenak, mendengarkan, dan memahami. 😊

Punya podcast favorit? Atau mau mulai bikin sendiri? Yuk, share di kolom komentar! 👇


— Wahyu Sulaiman

Mahasiswa Semester 6, Prodi Ilmu Komunikasi

Universitas Mpu Tantular

Dari Batam 🎧


Sumber Referensi:

1. McClung, J., & Johnson, T. J. (2022). Podcasting and the Future of Audio Media. Journal of Broadcasting & Electronic Media, 66(2), 215–232.

2. Berry, R. (2018). The Podcast Handbook: Everything You Need to Know to Get Started and Succeed. A&C Black.

3. Sullivan, J. L. (2018). Podcasting: The New Audio Revolution. Routledge.

4. Maida, S. T. (2025). Materi Kuliah Wawancara dan Talkshow. Universitas Mpu Tantular. (Catatan perkuliahan pribadi)


#Tag: #Podcast #Komunikasi #IlmuKomunikasi #MpuTantular #MediaAudio #WawancaraDanTalkshow

Teknik Menjadi Pewawancara yang Baik : Membangun Pertanyaan Efektif dan Menggali Informasi dari Narasumber



Halo, teman-teman! 👋

Kenalin, aku Wahyu Sulaiman, mahasiswa semester 6 Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Mpu Tantular. Tulisan ini aku susun sebagai refleksi dari mata kuliah Wawancara dan Talkshow yang diampu oleh Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom. — mata kuliah yang mengajarkan kami bahwa wawancara bukan sekadar "tanya-jawab", melainkan seni menggali makna melalui pertanyaan yang kritis dan terstruktur.

Pernah nggak sih kamu nonton talkshow atau baca hasil wawancara, terus merasa… "Kok pertanyaannya gitu-gitu aja? Kok narasumbernya jawabnya normatif banget?"

Nah, itu biasanya karena pewawancaranya kurang persiapan atau pertanyaannya kurang tajam. Di tulisan kali ini, aku mau berbagi teknik praktis menjadi pewawancara yang baik — singkat, padat, tapi daging!

Apa Itu Wawancara yang Baik?

Wawancara yang baik bukan tentang seberapa banyak pertanyaan yang kamu ajukan, tapi seberapa dalam informasi yang berhasil kamu gali. Menurut Kovach & Rosenstiel (2021), wawancara jurnalistik yang efektif adalah proses verifikasi kebenaran melalui dialog yang terstruktur — bukan interogasi, bukan juga obrolan santai tanpa arah.

Kuncinya ada di tiga hal: persiapan, pertanyaan, dan pendengaran.

Teknik 1: Riset Mendalam Sebelum Wawancara

Ini fondasi utama. Kamu nggak bisa menggali informasi kalau kamu sendiri nggak paham konteksnya.

Yang harus disiapkan:

- Latar belakang narasumber (karier, pencapaian, kontroversi)

- Konteks isu yang akan dibahas

- Pertanyaan-pertanyaan yang sudah pernah dijawab narasumber di media lain (supaya nggak mengulang)

Tips: Semakin kamu paham topiknya, semakin tajam pertanyaan yang bisa kamu ajukan. Narasumber juga akan lebih respect ke pewawancara yang "nyambung."

Teknik 2: Membangun Pertanyaan Efektif

Nah, ini inti dari mata kuliah Wawancara dan Talkshow. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan kritis — yang membuka perspektif baru, bukan yang hanya mengulang informasi yang sudah ada.


Ciri Pertanyaan Efektif:

1. Terbuka (open-ended)— mengundang narasumber bercerita, bukan cuma jawab "ya/tidak".

2. Spesifik— fokus pada satu hal, nggak multitafsir.

3. Berbasis fakta — menunjukkan kamu sudah riset.

4. Menggali "mengapa" dan "bagaimana", bukan cuma "apa".


Teknik 3: Active Listening & Follow-Up Question

Ini yang sering dilupakan. Wawancara yang bagus itu hidup — ada dinamika, ada kejutan. Dan itu hanya bisa terjadi kalau kamu benar-benar mendengarkan, bukan cuma menunggu giliran bertanya.

Teknik follow-up yang powerful:

- "Bisa Anda jelaskan lebih detail bagian itu?"

- "Menarik. Kenapa Anda memilih pendekatan tersebut?"

- "Tadi Anda menyebut X — apa maksudnya dalam konteks ini?"

- "Kalau boleh jujur, apakah ada yang Anda sesali dari keputusan itu?"

Roger A. Davis (2019) menyebut ini sebagai "the art of the second question" — pertanyaan kedua yang sering kali menghasilkan jawaban paling jujur dan mendalam.

Teknik 4: Membangun Rapport (Koneksi Emosional)

Narasumber bukan mesin informasi. Mereka manusia yang punya perasaan, kekhawatiran, dan kenyamanan. Kalau mereka nggak nyaman, jawaban yang kamu dapat bakal kaku dan normatif.

Cara membangun rapport:

- Awali dengan obrolan ringan sebelum mulai merekam

- Tunjukkan empati: "Saya paham itu pasti situasi yang sulit..."

- Jaga kontak mata dan bahasa tubuh yang terbuka

- Hormati batasan — kalau narasumber nggak nyaman membahas sesuatu, jangan dipaksa

Ingat: Pewawancara yang baik bukan yang "menginterogasi", tapi yang membuat narasumber merasa aman untuk jujur.

Teknik 5: Pertanyaan Penutup yang Berkesan

Jangan akhiri wawancara dengan "Ada pertanyaan lain?" — itu klise dan lemah. Coba ganti dengan pertanyaan yang memancing refleksi:

- "Apa satu hal yang Anda harap orang lain pahami tentang isu ini?"

- "Kalau bisa kembali ke masa lalu, apa yang akan Anda lakukan berbeda?"

- "Apa pesan Anda untuk generasi muda yang menghadapi tantangan serupa?"

Pertanyaan penutup yang kuat akan menghasilkan quote yang memorable — dan itu yang bikin wawancara kamu berkesan.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Terlalu banyak pertanyaan dalam satu waktu — bikin narasumber bingung.

Memotong pembicaraan narasumber — biarkan mereka selesai berpikir.

Terjebak di pertanyaan yang sudah ada di Google — riset dulu!

Tidak mencatat atau merekam — ingatan itu tidak bisa diandalkan.

Terbawa opini pribadi — tugasmu menggali, bukan menghakimi.

 

Penutup: Wawancara Adalah Dialog, Bukan Interogasi

 

Menjadi pewawancara yang baik itu soal keseimbangan: antara ketajaman pertanyaan dan kehangatan interaksi, antara menggali fakta dan menghormati narasumber, antara berpikir kritis dan mendengar dengan empati.

Seperti yang sering ditekankan Ibu Serepina di kelas: "Pertanyaan yang baik adalah jembatan. Ia menghubungkan rasa ingin tahu kita dengan kebenaran yang ingin disampaikan narasumber."

Jadi, mulai hari ini, yuk kita latihan jadi pewawancara yang lebih baik — bukan cuma buat tugas kuliah, tapi buat kehidupan sehari-hari. Karena pada dasarnya, setiap percakapan yang bermakna adalah bentuk wawancara kecil. 😊

Gimana, teman-teman? Punya pengalaman wawancara yang berkesan — baik sebagai pewawancara maupun narasumber? Yuk, share di kolom komentar! 👇

Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

— Wahyu Sulaiman

Mahasiswa Semester 6, Prodi Ilmu Komunikasi

Universitas Mpu Tantular

dari Batam ✍️🎤


Sumber Referensi:

1. Kovach, B., & Rosenstiel, T. (2021). The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (4th ed.). Crown Publishers.

2. Davis, R. A. (2019). News Reporting and Writing (12th ed.). Bedford/St. Martin's.

3. Forsyth, A. (2014). The Craft of Interviewing: How to Get the Information You Need from Anyone, Anytime. Wiley.

4. Siregar, A. (2018). Teknik-Teknik Jurnalistik: Panduan Praktis Menulis Berita, Feature, dan Wawancara. Jakarta: Kencana.

5. Maida, S. T. (2025). Materi Kuliah Wawancara dan Talkshow. Universitas Mpu Tantular. (Catatan perkuliahan pribadi)

 

#Tag: #Wawancara #Jurnalistik #IlmuKomunikasi #MpuTantular #PublicSpeaking #BerpikirKritis #Talkshow #SoftSkills



Editorial: Lebih dari Sekadar Berita, Ini adalah "Suara" Redaksi



Halo, teman-teman!
👋

Kenalin, aku Wahyu Sulaiman, mahasiswa semester 6 Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Mpu Tantular.

Tulisan ini terinspirasi dari mata kuliah Wawancara dan Talkshow yang diampu oleh Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom. Di kelas ini, kami tidak hanya belajar teknik bertanya, tetapi juga sangat ditekankan untuk berpikir kritis: menganalisis, mengevaluasi, dan menyusun argumen yang logis.

Nah, salah satu bentuk nyata penerapan berpikir kritis di dunia jurnalistik adalah melalui tulisan yang bernama Editorial (atau Tajuk Rencana). Yuk, kita bahas sekilas!

Apa Sih Editorial Itu?

Singkatnya, editorial adalah artikel opini resmi yang mewakili pandangan, sikap, atau kebijakan redaksi sebuah media terhadap suatu isu yang sedang hangat (aktual).

Penting untuk dicatat : ini bukan opini pribadi satu penulis, melainkan hasil diskusi dan kesepakatan tim redaksi. Jika berita menyajikan fakta, editorial menyajikan pendapat atas fakta tersebut.

Ciri-Ciri Utama Editorial

  • Berpijak pada Fakta : Meski berisi opini, argumennya harus didukung data dan fakta yang valid.
  • Aktual: Selalu menanggapi isu yang sedang ramai dibicarakan publik.
  • Persuasif: Bertujuan mengajak pembaca untuk berpikir kritis atau mengambil sikap.
  • Anonim: Biasanya tidak mencantumkan nama penulis, karena mewakili institusi media.

Hubungannya dengan Berpikir Kritis

Menulis editorial adalah latihan berpikir kritis tingkat tinggi. Kita tidak hanya bertanya "Apa yang terjadi?", tetapi harus menggali lebih dalam seperti yang sering ditekankan dalam materi kuliah:

"Mengapa hal ini terjadi?"

"Apa dampaknya bagi masyarakat?"

"Apa solusi yang tepat?"

Contoh Editorial Singkat

Judul: Literasi Digital “Benteng Terakhir Melawan Hoaks Ekonomi”

"Belakangan, isu kenaikan harga BBM sering dijadikan bahan hoaks yang memicu kepanikan dan antrean di SPBU. Padahal, tidak ada keputusan resmi dari pemerintah terkait hal tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat masih rentan menelan informasi secara mentah-mentah. Pemerintah memang perlu menindak tegas penyebar hoaks. Namun, solusi jangka panjang yang paling efektif ada di tangan kita: literasi digital.

Kita harus terbiasa berhenti sejenak dan bertanya, 'Dari mana sumber ini?' sebelum membagikannya. Karena di era banjir informasi, berpikir kritis adalah bentuk pertahanan diri yang paling utama."

Penutup

Jadi, editorial bukan sekadar tulisan biasa. Ia adalah jembatan yang menghubungkan fakta dengan makna, mengajak kita untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi pasif, tapi juga pemikir yang kritis.

Gimana, teman-teman? Jadi lebih paham kan bedanya berita biasa dengan editorial? Kalau ada yang mau didiskusikan atau ada contoh editorial favorit, yuk tulis di kolom komentar! 👇

Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

 

— Wahyu Sulaiman

Mahasiswa Semester 6, Prodi Ilmu Komunikasi

Universitas Mpu Tantular

Dari Batam, dengan semangat literasi! ✍️☕

 

#Tag: #Editorial #Jurnalistik #BerpikirKritis #IlmuKomunikasi #MpuTantular #LiterasiMedia

 

Story Telling : Seni Bercerita yang Bikin Orang Terpesona

Hai, teman-teman! 👋

Pernah nggak sih kamu dengerin seseorang cerita, terus kamu nggak bisa berhenti fokus sampai ceritanya selesai? Atau sebaliknya, ada orang yang cerita sesuatu yang sebenernya menarik, tapi kamu malah ngantuk dengerinnya?

Nah, perbedaan antara dua pengalaman itu ada di satu kata: story telling.

Aku Wahyu Sulaiman, mahasiswa semester 6 Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mpu Tantular. Di mata kuliah Wawancara dan Talkshow bareng Ibu Serepina Tiur Maida, aku belajar bahwa story telling itu bukan cuma soal cerita—tapi soal gimana caranya bikin orang peduli, terhubung, dan ingat.

Yuk, kita bahas singkat tapi daging!

Apa Sih Story Telling Itu?

Simpelnya: story telling adalah seni menyampaikan pesan melalui cerita yang punya struktur, emosi, dan makna.

Bukan sekadar ngomong "aku pergi ke pasar, terus beli sayur, terus pulang." Tapi lebih ke: "Pagi itu, aku bangun dengan satu misi: bikin sup buat ibu yang lagi sakit. Aku ke pasar, tapi dompetku cuma punya 20 ribu. Gimana caranya?"

Lihat bedanya? Yang kedua punya konflik, emosi, dan tujuan.

Kenapa Story Telling Itu Penting?

1. Otak Kita Suka Cerita

Fakta menarik: otak manusia lebih gampang ingat cerita daripada data. Kalau kamu presentasi pakai angka, orang mungkin lupa dalam 10 menit. Tapi kalau kamu bungkus angka itu dalam cerita, mereka bisa ingat sampai bertahun-tahun.

2. Story Telling Membangun Koneksi Emosional

Data itu informatif, tapi cerita itu relate. Ketika kamu cerita soal perjuangan, kegagalan, atau kemenangan, orang lain bisa ngerasain apa yang kamu rasain. Itu yang bikin mereka terhubung sama kamu.

3. Story Telling Bikin Pesan Lebih Mudah Dipahami

Konsep yang rumit jadi gampang dicerna kalau dibungkus cerita. Makanya, iklan-iklan sukses itu jarang yang cuma ngomongin fitur produk. Mereka cerita soal masalah yang diselesaikan atau perubahan yang dirasakan.

Struktur Story Telling yang Bikin Orang Terpesona

 Nggak perlu ribet, cukup pakai formula sederhana ini:

1. Hook (Pancingan)

Buka cerita dengan sesuatu yang bikin orang penasaran.

- "Aku hampir kehilangan pekerjaan karena satu email."

- "Ada satu kebiasaan kecil yang mengubah hidupku dalam 30 hari."

2. Konteks (Latar Belakang)

Kasih gambaran singkat soal situasi. Siapa, kapan, di mana.

- "Waktu itu aku masih fresh graduate, baru kerja 3 bulan di perusahaan startup..."

3. Konflik (Masalah)

Ini bagian paling penting. Cerita tanpa konflik itu kayak sayur tanpa garam—hambar.

- "Tapi suatu hari, aku bikin kesalahan fatal: kirim email ke klien yang salah..."

4. Klimaks (Titik Balik)

Momen ketika semuanya berubah atau ada keputusan penting.

- "Aku panik. Tapi daripada sembunyi, aku pilih jujur ke atasan..."

5. Resolusi (Penyelesaian)

Gimana ceritanya berakhir? Apa yang kamu pelajari?

- "Ternyata, atasan malah appreciate kejujuranku. Dan klien? Dia malah jadi lebih percaya sama kami."

6. Pesan (Makna)

Tutup dengan insight atau pelajaran yang bisa diambil.

- "Dari situ aku belajar: kesalahan itu wajar, tapi kejujuran itu yang bikin kita berkembang."

Tips Praktis Story Telling

1. Mulai dari "Mengapa"

Sebelum cerita, tanya ke diri sendiri: "Kenapa cerita ini penting? Apa yang mau aku sampaikan?" Kalau kamu nggak tahu jawabannya, orang lain juga nggak akan peduli.

2. Pakai Detail yang Spesifik

Jangan bilang "Aku sedih." Tapi bilang "Aku duduk di bangku taman, nahan air mata sambil lihat HP yang nggak ada balasannya."* Detail bikin cerita hidup.

3. Jangan Takut Jadi Rentan

Cerita terbaik itu yang jujur. Nggak perlu sok sempurna. Orang lebih relate sama kegagalan dan perjuangan daripada kesuksesan yang mulus-mulus aja.

4. Latih, Latih, Latih

Story telling itu skill. Makin sering kamu latihan, makin jago kamu. Mulai dari cerita kecil: pengalaman hari ini, pelajaran dari buku, atau momen lucu bareng teman.

Story Telling di Dunia Kerja

Di dunia profesional, story telling itu superpower. Kamu bisa pakai buat:

- Presentasi: Bikin audiens nggak bosan dengerin data.

- Interview kerja: Ceritain pengalaman yang nunjukin skill kamu.

- Pitching ide: Bikin klien atau atasan peduli sama proposal kamu.

- Leadership: Inspire tim dengan visi yang dikemas dalam cerita.

Intinya: orang nggak ingat apa yang kamu bilang, tapi mereka ingat gimana kamu bikin mereka ngerasa.

Penutup: Cerita Kamu Berharga

Teman-teman, setiap orang punya cerita. Dan cerita kamu—entah itu tentang perjuangan, kegagalan, atau momen kecil yang bermakna—berharga.

Story telling bukan soal jadi pendongeng hebat. Tapi soal berani berbagi, jujur, dan terhubung sama orang lain.

 

Jadi, mulai hari ini, yuk kita lebih sadar soal cara kita bercerita. Karena pada akhirnya, cerita yang baik itu bukan cuma menghibur—tapi menginspirasi dan mengubah cara pandang orang.

Gimana? Punya cerita menarik yang mau dibagi? Atau mau belajar lebih dalam soal story telling? Yuk, diskusi di kolom komentar! 👇

Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Semoga cerita-cerita kamu hari ini bikin orang tersenyum! 😄 


-Wahyu Sulaiman_Mahasiswa Semester 6, 

Prodi Ilmu Komunikasi_Universitas Mpu Tantular

Dari Batam, dengan semangat bercerita


#Tag: #StoryTelling #Komunikasi #PublicSpeaking #IlmuKomunikasi #MpuTantular #SoftSkills

Strategi dalam Talkshow: Rahasia di Balik Obrolan yang Menghibur dan Bermakna

Halo, teman-teman! 👋 Aku Wahyu Sulaiman, mahasiswa semester 6 Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mpu Tantular. Tulisan ini masih dalam rangk...