Tuesday, 12 May 2026

Model Komunikasi dalam Organisasi

“Komunikasi adalah jembatan antara pikiran dan hati; ia bukan hanya menyampaikan, tapi juga menyatukan.”


Dari Teori, Praktik, hingga "Kitab Samawi"

Halo teman-teman! ๐Ÿ‘‹
Kalau kita bicara soal organisasi, satu hal yang nggak bisa dilepas adalah komunikasi. Tanpa komunikasi, organisasi itu ibarat tubuh tanpa aliran darah—nggak akan hidup. Nah, di dalam Kelas Komunikasi Organisasi yang diampu oleh Serepina Tiur Maida, S.Sos.,M.Pd,.M.Ikom, kami  dikenalkan dengan berbagai model komunikasi, mulai dari yang klasik seperti Aristoteles, sampai yang lebih modern seperti Tubbs dan Gudykunst & Kim.

Saya Wahyu Sulaiman, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 6 di Universitas Mpu Tantular. Senang bisa berbagi tulisan ini dengan kamu.

Lewat pembahasan tentang model komunikasi dalam organisasi, kita belajar bahwa teori bukan sekadar hafalan, tapi punya makna nyata dalam kehidupan sehari-hari—baik di ruang kelas, dunia kerja, maupun dalam refleksi spiritual lewat Al-Qur’an dan Bible.

Biar lebih menambah pengetahuan dan bermanfaat, yuk kita ulas lebih dalam tulisan ini...๐Ÿ˜Š

Kenapa Model Komunikasi Organisasi itu Penting?


1. Memberi Peta Jalan Komunikasi

Model komunikasi berfungsi seperti peta. Ia membantu kita memahami bagaimana pesan bergerak dari pengirim ke penerima, lewat saluran tertentu, dan bagaimana gangguan bisa muncul. Tanpa model, komunikasi dalam organisasi bisa terasa abstrak dan sulit dipetakan.

๐Ÿ‘‰ Contoh: Dalam rapat Zoom, model Shannon & Weaver menjelaskan kenapa suara putus-putus (noise) bisa bikin pesan gagal sampai. Dengan model ini, kita bisa mencari solusi teknis agar komunikasi lebih lancar.

2. Mengurangi Konflik dan Kesalahpahaman

Dalam PPT disebutkan fungsi model menurut Gordon Wiseman & Larry Barker adalah memperbaiki kemacetan sosial. Artinya, model komunikasi membantu organisasi mengurangi konflik dengan cara memvisualisasikan alur pesan.

๐Ÿ‘‰ Contoh: Model Tubbs yang menekankan komunikasi dua arah (diadik) bisa dipakai untuk menyelesaikan konflik antar karyawan. Dengan memahami bahwa komunikasi itu timbal balik, organisasi bisa mendorong dialog, bukan monolog.

3. Membantu Perencanaan Strategis

Deutsch menekankan fungsi prediktif dari model komunikasi. Artinya, organisasi bisa meramalkan bagaimana pesan akan diterima audiens. Ini penting dalam perencanaan strategi komunikasi, baik internal maupun eksternal.

๐Ÿ‘‰ Contoh : Dalam kampanye perusahaan, model Lasswell (Who says What in Which Channel to Whom with What Effect) bisa dipakai untuk merancang pesan agar tepat sasaran.

4. Menjadi Alat Evaluasi

Model komunikasi juga berfungsi sebagai alat ukur. Dengan model, organisasi bisa mengevaluasi apakah pesan sudah sampai, apakah ada gangguan, dan apakah efeknya sesuai harapan.

๐Ÿ‘‰ Contoh : Model Schramm yang menekankan proses encoding-decoding bisa dipakai untuk mengevaluasi apakah pesan internal perusahaan dipahami dengan benar oleh karyawan.

5. Menyesuaikan dengan Budaya dan Konteks

Model Gudykunst & Kim menekankan komunikasi antarbudaya. Dalam organisasi multinasional, ini sangat penting karena perbedaan budaya bisa memengaruhi cara pesan ditafsirkan.

๐Ÿ‘‰ Contoh : Perusahaan global harus sadar bahwa humor dalam iklan bisa diterima berbeda di Asia dan Eropa. Model ini membantu organisasi menyesuaikan pesan dengan konteks budaya.

Dalam PPT pembelajaran kami, dijelaskan juga bahwa model adalah representasi fenomena komunikasi untuk mempermudah penjelasan. Gordon Wiseman & Larry Barker bilang, model itu bisa melukiskan proses komunikasi dan memperbaiki kemacetan sosial. Deutsch menambahkan fungsi prediktif—komunikasi bisa diramalkan, bahkan diukur.

๐Ÿ‘‰ Contoh sehari-hari :

  • Model S-R (Stimulus-Response): Atasan tersenyum → bawahan jadi semangat. Sebaliknya, tatapan tajam → bawahan bisa takut.
  • Model Shannon & Weaver: Lagi meeting online, tiba-tiba suara putus-putus. Nah, itu contoh noise yang bikin pesan nggak sampai.
  • Model Tubbs: Ngobrol santai sama teman, kadang nggak jelas siapa mulai duluan. Komunikasi berjalan spontan, saling mempengaruhi.

Dari Literatur Lain...

Selain dari materi di PPT, ada juga teori-teori lain yang bikin bacaan ini makin kaya antara lain :

  • Craig (1999) : Komunikasi punya banyak tradisi—retoris, semiotik, sosiopsikologis, sampai kritis. Jadi komunikasi bukan cuma soal pesan, tapi juga soal budaya dan kekuasaan.
  • Hall (1980) : Audiens itu aktif. Pesan media bisa ditafsirkan berbeda tergantung budaya. Mirip banget dengan model Gudykunst & Kim tentang komunikasi antarbudaya.
  • Habermas (1984) : Komunikasi ideal itu kalau semua pihak bisa bicara setara tanpa dominasi. Cocok banget buat organisasi modern yang menekankan participatory communication.

๐Ÿ‘‰ Contoh aplikatif :

  • Iklan global bisa ditafsirkan beda di Asia dan Eropa.
  • Forum mahasiswa di kampus adalah contoh komunikasi partisipatif ala Habermas.

Komunikasi dalam Kitab Suci

Nah, ini bagian yang menarik. Ternyata gaya komunikasi juga ada dalam kitab suci.

  • Al-Qur’an: Banyak ayat dimulai dengan “Yฤ ayyuhannฤs” (wahai manusia) atau “Yฤ ayyuhalladzฤซna ฤmanลซ” (wahai orang-orang beriman). Ini gaya komunikasi publik, persuasif, dan normatif.
  • Bible: Yesus sering pakai parabel (perumpamaan). Misalnya kisah The Good Samaritan yang mengajarkan nilai kasih.

Analisis nya begini...

Kalau kita tarik ke teori komunikasi dalam materi PPT yang kami pelajari, gaya Al-Qur’an itu mirip model Aristoteles : pembicara (Allah), pesan (wahyu), pendengar (manusia). Sedangkan Bible lebih dekat ke model Schramm, karena pesan Yesus lewat parabel ditafsirkan sesuai budaya audiens.

Contoh sehari-hari :

  • Ayat Al-Qur’an tentang penciptaan langit dan bumi → gaya persuasif, logis, normatif.

  • Parabel Yesus tentang biji sesawi → gaya naratif, simbolik, menyentuh emosi audiens.

Persamaannya :

Keduanya sama-sama pakai retorika persuasif dan narasi simbolik untuk mengubah sikap manusia. Jadi bukan sekadar informasi, tapi membentuk perilaku, nilai, dan identitas komunitas.

Dari Aristoteles sampai Tubbs, dari Shannon & Weaver sampai Gudykunst & Kim, semua model komunikasi punya kelebihan dan kekurangan. Tapi intinya, komunikasi adalah proses dinamis yang membentuk manusia dan organisasi. Sama seperti kitab suci yang menggunakan gaya komunikasi retoris dan naratif untuk membentuk umat, organisasi modern pun butuh komunikasi yang jelas, adaptif, dan penuh makna.

Jadi, pertanyaan reflektifnya : “Gaya komunikasi apakah yang ada dalam Bible dan Al-Qur’an, dan apa persamaannya?”
Jawabannya : keduanya sama-sama menekankan komunikasi persuasif yang membentuk perilaku dan nilai manusia.

Lalu, bagaimana kesimpulan anda setelah membaca tulisan ini? ๐Ÿ˜Ž feel free to answers๐Ÿ‘

Referensi

  • PPT : Serepina Tiur Maida. Model Komunikasi dalam Organisasi.
  • Craig, R. T. (1999). Communication Theory as a Field. Communication Theory.
  • Hall, S. (1980). Encoding/Decoding. In Culture, Media, Language. London: Hutchinson.
  • Habermas, J. (1984). The Theory of Communicative Action. Boston: Beacon Press.
  • Wiseman, G., & Barker, L. (1967). Speech Communication. Allyn & Bacon.
  • Deutsch, K. W. (1966). The Nerves of Government: Models of Political Communication and Control. Free Press.

Nah, teman-teman, sampai di sini dulu obrolan kita tentang model komunikasi dalam organisasi dan refleksi gaya komunikasi dalam Al-Qur’an serta Bible. Semoga tulisan ini bisa jadi bekal buat kita memahami bahwa komunikasi itu bukan sekadar teori di kelas, tapi juga praktik nyata yang membentuk perilaku, budaya, bahkan spiritualitas kita.

Quote Inspiratif :
“Komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tapi soal menyentuh hati dan menghubungkan manusia.”

Terima kasih sudah membaca sampai akhir, semoga bermanfaat dan menginspirasi. Sampai jumpa di tulisan berikutnya, dan jangan lupa—tetap berkomunikasi dengan hati.๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘๐Ÿ™

Model Komunikasi dalam Organisasi

“Komunikasi adalah jembatan antara pikiran dan hati; ia bukan hanya menyampaikan, tapi juga menyatukan.” Dari Teori, Praktik, hingga "...