Halo, teman-teman! 👋
Kenalin, aku Wahyu Sulaiman, mahasiswa semester 6 Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Mpu Tantular. Tulisan ini aku susun sebagai refleksi dari mata kuliah Wawancara dan Talkshow yang diampu oleh Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom. — mata kuliah yang mengajarkan kami bahwa wawancara bukan sekadar "tanya-jawab", melainkan seni menggali makna melalui pertanyaan yang kritis dan terstruktur.
Pernah nggak sih kamu nonton talkshow atau baca hasil wawancara, terus merasa… "Kok pertanyaannya gitu-gitu aja? Kok narasumbernya jawabnya normatif banget?"
Nah, itu biasanya karena pewawancaranya kurang persiapan atau pertanyaannya kurang tajam. Di tulisan kali ini, aku mau berbagi teknik praktis menjadi pewawancara yang baik — singkat, padat, tapi daging! ☕
Apa Itu Wawancara yang Baik?
Wawancara yang baik bukan tentang seberapa banyak pertanyaan yang kamu ajukan, tapi seberapa dalam informasi yang berhasil kamu gali. Menurut Kovach & Rosenstiel (2021), wawancara jurnalistik yang efektif adalah proses verifikasi kebenaran melalui dialog yang terstruktur — bukan interogasi, bukan juga obrolan santai tanpa arah.
Kuncinya ada di tiga hal: persiapan, pertanyaan, dan pendengaran.
Teknik 1: Riset Mendalam Sebelum Wawancara
Ini fondasi utama. Kamu nggak bisa menggali informasi kalau kamu sendiri nggak paham konteksnya.
Yang harus disiapkan:
- Latar belakang narasumber (karier, pencapaian,
kontroversi)
- Konteks isu yang akan dibahas
- Pertanyaan-pertanyaan yang sudah pernah dijawab narasumber di media lain (supaya nggak mengulang)
Tips: Semakin kamu paham topiknya, semakin tajam pertanyaan yang bisa kamu ajukan. Narasumber juga akan lebih respect ke pewawancara yang "nyambung."
Teknik 2: Membangun Pertanyaan Efektif
Nah, ini inti dari mata kuliah Wawancara dan Talkshow. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan kritis — yang membuka perspektif baru, bukan yang hanya mengulang informasi yang sudah ada.
Ciri Pertanyaan Efektif:
1. Terbuka (open-ended)— mengundang narasumber
bercerita, bukan cuma jawab "ya/tidak".
2. Spesifik— fokus pada satu hal, nggak multitafsir.
3. Berbasis fakta — menunjukkan kamu sudah riset.
4. Menggali "mengapa" dan "bagaimana", bukan cuma "apa".
Teknik 3: Active Listening & Follow-Up Question
Ini yang sering dilupakan. Wawancara yang bagus itu hidup — ada dinamika, ada kejutan. Dan itu hanya bisa terjadi kalau kamu benar-benar mendengarkan, bukan cuma menunggu giliran bertanya.
Teknik follow-up yang powerful:
- "Bisa Anda jelaskan lebih detail bagian
itu?"
- "Menarik. Kenapa Anda memilih pendekatan
tersebut?"
- "Tadi Anda menyebut X — apa maksudnya dalam
konteks ini?"
- "Kalau boleh jujur, apakah ada yang Anda sesali dari keputusan itu?"
Roger A. Davis (2019) menyebut ini sebagai "the art of the second question" — pertanyaan kedua yang sering kali menghasilkan jawaban paling jujur dan mendalam.
Teknik 4: Membangun Rapport (Koneksi Emosional)
Narasumber bukan mesin informasi. Mereka manusia yang punya perasaan, kekhawatiran, dan kenyamanan. Kalau mereka nggak nyaman, jawaban yang kamu dapat bakal kaku dan normatif.
Cara membangun rapport:
- Awali dengan obrolan ringan sebelum mulai merekam
- Tunjukkan empati: "Saya paham itu pasti situasi
yang sulit..."
- Jaga kontak mata dan bahasa tubuh yang terbuka
- Hormati batasan — kalau narasumber nggak nyaman membahas sesuatu, jangan dipaksa
Ingat: Pewawancara yang baik bukan yang "menginterogasi", tapi yang membuat narasumber merasa aman untuk jujur.
Teknik 5: Pertanyaan Penutup yang Berkesan
Jangan akhiri wawancara dengan "Ada pertanyaan lain?" — itu klise dan lemah. Coba ganti dengan pertanyaan yang memancing refleksi:
- "Apa satu hal yang Anda harap orang lain pahami
tentang isu ini?"
- "Kalau bisa kembali ke masa lalu, apa yang akan
Anda lakukan berbeda?"
- "Apa pesan Anda untuk generasi muda yang menghadapi tantangan serupa?"
Pertanyaan penutup yang kuat akan menghasilkan quote yang memorable — dan itu yang bikin wawancara kamu berkesan.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
❌ Terlalu
banyak pertanyaan dalam satu waktu — bikin narasumber bingung.
❌ Memotong
pembicaraan narasumber — biarkan mereka selesai berpikir.
❌ Terjebak di
pertanyaan yang sudah ada di Google — riset dulu!
❌ Tidak
mencatat atau merekam — ingatan itu tidak bisa diandalkan.
❌ Terbawa opini
pribadi — tugasmu menggali, bukan menghakimi.
Penutup: Wawancara Adalah Dialog, Bukan Interogasi
Menjadi pewawancara yang baik itu soal keseimbangan: antara ketajaman pertanyaan dan kehangatan interaksi, antara menggali fakta dan menghormati narasumber, antara berpikir kritis dan mendengar dengan empati.
Seperti yang sering ditekankan Ibu Serepina di kelas: "Pertanyaan yang baik adalah jembatan. Ia menghubungkan rasa ingin tahu kita dengan kebenaran yang ingin disampaikan narasumber."
Jadi, mulai hari ini, yuk kita latihan jadi pewawancara yang lebih baik — bukan cuma buat tugas kuliah, tapi buat kehidupan sehari-hari. Karena pada dasarnya, setiap percakapan yang bermakna adalah bentuk wawancara kecil. 😊
Gimana, teman-teman? Punya pengalaman wawancara yang berkesan — baik sebagai pewawancara maupun narasumber? Yuk, share di kolom komentar! 👇
Sampai jumpa di tulisan berikutnya!
— Wahyu Sulaiman
Mahasiswa Semester 6, Prodi Ilmu Komunikasi
Universitas Mpu Tantular
dari Batam ✍️🎤
Sumber Referensi:
1. Kovach, B., & Rosenstiel, T. (2021). The
Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should
Expect (4th ed.). Crown Publishers.
2. Davis, R. A. (2019). News Reporting and Writing
(12th ed.). Bedford/St. Martin's.
3. Forsyth, A. (2014). The Craft of Interviewing: How
to Get the Information You Need from Anyone, Anytime. Wiley.
4. Siregar, A. (2018). Teknik-Teknik Jurnalistik:
Panduan Praktis Menulis Berita, Feature, dan Wawancara. Jakarta: Kencana.
5. Maida, S. T. (2025). Materi Kuliah Wawancara dan
Talkshow. Universitas Mpu Tantular. (Catatan perkuliahan pribadi)
#Tag: #Wawancara #Jurnalistik #IlmuKomunikasi
#MpuTantular #PublicSpeaking #BerpikirKritis #Talkshow #SoftSkills

No comments:
Post a Comment